Berita

URUN REMBUG LOGO BARU JOGJA

12 November 2014 - 10:53:49 Admin Bappeda

Branding dapat dipahami secara generik sebagai paparan sebuah janji. Sedangkan rebranding adalah kegiatan terintegrasi dan terencana untuk mengubah posisi  sebuah brand secara internal dan eksternal. Pada titik ini, kata kunci rebranding adalah kegiatan terintegrasi dan terencana, serta mengubah posisi  sebuah brand secara internal dan eksternal. Atas dasar kata kunci tersebut, lewat konsep design thinking dan mind mapping akan ditemukenali repositioning brand Jogja.

Untuk keperluan rebranding Jogja ini Pemerintah Daerah DIY merekrut Hermawan Kertajaya dan tenaga ahli  melaksanakan proses rebranding melalui beberapa tahapan yaitu : (1) fase pertama adalah penelitian kualitatif; (2) fase kedua : penyusunan brand strategy ; dan (3) Fase ketiga : pengerjaan panduan implementasi branding. Fase pertama proses rebranding Jogja ini, maka Pemda DIY bersama Hermawan Kertajaya  memetakan pemikiran atas beragam permasalahan baru yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai perwujudan design thinking. Dari sana akan terlihat akar, batang, dahan, ranting dan daun yang dibutuhkan sebagai anatomi proses pembangunan sebuah brand baru. Dalam proses rebranding Jogja ini juga dilakukan indept interview dengan Gubernur DIY Sri Sultan hamengku Buwana X, untuk menggali pesan-pesan filosofis dan strategis dari Bapak Gubernur untuk dituangkan dalam brand yang baru. Visi Misi Gubernur DIY yang terangkum dalam spirit DIY menyongsong peradaban baru (Renaisans) dan Sabdatama menjadi roh dari brand baru.  Selanjutnya brand baru Jogja juga mengadaptasi sembilan arah kebijakan DIY sebagai implementasi dari Jogja Renaissance. Kesembilan kebijakan itu meliputi bidang ekonomi, pariwisata, kesehatan, teknologi, pendidikan dan keterlindungan warga, energi, pangan, tata ruang serta lingkungan. Dengan demikian, hasil rebranding Jogja diharapkan mampu menggelorakan semangat renaisans Yogyakarta.  Pada fase kedua akan disusun brand strategy, termasuk didalamnya adalah visualisasi terhadap filosofi yang telah diteliti dan merumuskan konsep tageline.

Proses rebranding Jogja ini membutuhkan waktu yang cukup panjang, diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu 4 bulan. Untuk melaksanakan keseluruhan proses tersebut Pemerintah Daerah DIY mengalokasikan anggaran ± sebesar Rp 800 juta.

Setelah konsep rebranding diselesaikan maka diselenggarakan acara Urun Rembug Logo Baru Jogja” pada hari Selasa, 28 Oktober 2014 pada jam 15.00 WIB – 17.00 WIB bertempat di Atrium Hall Plaza Ambarrukmo. Dalam acara tersebut Panitya mengundang Bupati/Walikota, komponen Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, Kepala SKPD lingkup Pemerintah daerah DIY, Akademisi, Profesional, Budayawan, Seniman, Asosiasi-asosiasi, dan Tokoh-tokoh Masyarakat. Acara ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan konsep brand baru Joga kepada publik dan selanjutnya menggali respon dan masukan dari segenap masyarakat DIY, baik tanggapan secara langsung dari undangan yang hadir pada acara Urun Rembug tersebut, maupun respon masyarakat melalui berbagai media.  

Biaya yang dibutuhkan pada acara Urun Rembug Loga  Baru Jogja ini  kurang lebih sebesar Rp 250 juta. Anggaran ini digunakan untuk keperluan penyelenggaraan melalui jasa Event Organiser, sewa tempat, goody bag,  publikasi kegiatan, materi, dan biaya administrasi). Setelah urun rembug ini ternyata respon masyarakat sangat antusias, baik yang disampaikan melalui media massa, maupun melalui diskusi yang diinisiasi oleh berbagai komunitas. Dengan banyaknya  masukan untuk penyempurnaan brand DIY, diharapkan pada saat dilaunching brand baru Jogja benar-benar bisa diterima dan menjadi milik masyarakat DIY. Untuk itu fase selanjutnya adalah mengevaluasi masukan-masukan dari masyarakat untuk menentukan 5 alternatif logo baru dan tageline, yang selanjutnya akan dikonsultasikan dengan Bapak Gubernur untuk menentukan logo baru dan tageline yang baru. 

Pada konteks perencanaan, maka sudah dialokasikan biaya yang akan dipergunakan untuk acara launching yaitu kurang lebih sebesar Rp 450 juta. Biaya tersebut akan dipergunakan untuk penyelenggaraan acara launching melalui jasa EO, publikasi, dokumentasi, sewa tempat dan cetak panduan serta biaya administrasi). Pelaksanaan rencana tersebut tentu akan menyesuaikan dengan dinamika yang terjadi terkait dengan banyaknya masukan-masukan dari masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar Tim yang bekerja tidak terpancang pada waktu, tetapi benar-benar mampu menelurkan sebuah logo dan tageline baru yang “istimewa” dan akhirnya diterima dan menjadi milik masyarakat, serta selanjutnya menjadi spirit baru dinamika kehidupan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.